Rabu, 13 Januari 2010

MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH

(PROBLEM BASED INSTRUCTION)



1. Pengertian
Model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Instruction) adalah modal pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik (nyata) sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan yang lebih tinggi memandirikan siswa dan meningkatkan kepercayaan diri siswa (Arends, 1997:288).
Model pembelajaran berdasarkan masalah bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan memecahkan masalah, serta mendapatkan konsep-konsep penting. Pendekatan ini mengutamakan proses belajar, tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan masalah penggunaannya di dalam pengembangan tingkat berfikir yang lebih tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah, termasuk pembelajaran bagaimana belajar (Arends, 1997:156).
Pada pembelajaran berdasarkan masalah ini, guru berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan masalah, dan sebagai pemberi fasilitas yang diperlukan siswa. Selain itu, guru memberikan dukungan dan dorongan dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan perkembangan intelektual siswa. Pembelajaran berdasarkan masalah hanya dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan membimbing pertukaran pendapat (Arends,1997). Pembelajaran berdasarkan masalah juga banyak menumbuh kembangkan aktivitas belajar, baik secara individu maupun secara kelompok.
Dalam pembelajaran berdasarkan masalah memerlukan adanya beberapa kemampuan, diantaranya yaitu:
a. Kemampuan memecahkan masalah
Kemampuan memecahkan masalah hendaknya diberikan, dilatihkan dan dibiasakan pada siswa sedini mungkin (Branco, 1980:3). Kemampuan memecahkan masalah juga sangat penting bagi siswa yang akan mendalami bidang studi tertentu maupun untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Rusefendi, 1991:291).
b. Kemampuan berfikir
Menurut Peter Reason (1981), berfikir (thinking) adalah proses mental seseorang yang lebih tinggi dari sekadar mengingat (remembering) dan memahami (comprehending). Menurut Reason mengingat dan memahami lebih bersifat pasif daripada kegiatan berfikir (thinking). Mengingat pada dasarnya hanya melibatkan usaha penyimpanan sesuatu yang telah dialami untuk suatu saat dikeluarkan kembali atas permintaan; sedangkan memahami memerlukan pemerolehan apa yang didengar dan dibaca serta melihat keterkaitan antar-aspek dalam memori. Berfikir adalah istilah yang lebih dari keduanya. Berfikir menyebabkan seseorang harus bergerak hingga di luar informasi yang didengarnya, misalkan kemampuan berfikir seseorang untuk menemukan solusi baru dari suatu persoalan yang dihadapi.
Kemampuan berfikir memerlukan kemampuan mengingat dan memahami, oleh sebab itu kemampuan mengingat adalah bagian terpenting dalam mengembangkan kemampuan berfikir. Artinya, belum tentu seseorang yang memiliki kemampuan mengingat dan memahami memiliki kemampuan juga dalam berfikir. Sebaliknya, kemampuan berfikir seseorang sudah pasti diikuti oleh kemampuan mengingat dan memahami. Hal ini seperti yang dikemukakan Peter Reason, bahwa berfikir tidak mungkin terjadi tanpa adanya memori. Bila seseorang kurang memiliki daya ingat (working memory), maka orang tersebut tidak mungkin sanggup menyimpan masalah dan informasi yang cukup lama. Jika seseorang kurang memiliki daya ingat jangka panjang (long term memory), maka orang tersebut dipastikan tidak akan memiliki catatan masa lalu yang dapat digunakan dalam untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi pada masa sekarang. Dengan demikian, berfikir sebagai kegiatan yang melibatkan proses mental memerlukan kemampuan mengingat dan memahami. Sebaliknya untuk dapat mengingat dan memahami diperlukan proses mental yang disebut berfikir.
Kemampuan berfikir siswa memerlukan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, terutama orang tua, teman sejawat dan guru. Dan untuk memberikan keterampilan berfikir, siswa memerlukan sarana (Siavin, 1994), dan sarana yang memadai untuk melatih kemampuan berfikir siswa adalah lembaga pendidikan (Dowel, 1994).

2. Ciri-ciri Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
a. Pengajuan Masalah atau Pertanyaan
Pengaturan pembelajaran berdasarkan masalah berkisar pada masalah atau pertanyaan yang diajukan guru dan dianggap penting bagi siswa maupun masyarakat. Menurut Arends (dalam Ratumanan, 200:126), pertanyaan dan masalah yang diajukan itu haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Autentik. Yaitu masalah harus sesuai dengan pengalaman dunia nyata siswa dari pada dengan prinsip-prinsip disiplin akademik tertentu.
2. Jelas. Yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan siswa menyelesaikan masalah tersebut.
3. Bermakna. Yaitu masalah yang diberikan hendaknya bermakna (meaningful) bagi siswa. Selain itu, masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
4. Luas dan Sesuai dengan Tujuan Pembelajaran. Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang, dan sumber yang tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
5. Bermanfaat. Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik bagi siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
b. Keterkaitannya dengan Berbagai Disiplin Ilmu
Masalah yang diajukan dalam pembelajaran berdasarkan masalah hendaknya mengaitkan atau melibatkan berbagai disiplin ilmu.
c. Penyelidikan yang Autentik
Penyelidikan yang diperlukan dalam pembelajaran berdasarkan masalah bersifat autentik. Selain itu, penyelidikan diperlukan untuk mencari penyelesaian masalah yang bersifat nyata. Siswa menganalisis dan merumuskan masalah, mengembangkan dan meramalkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat kesimpulan, dan menggambarkan hasil akhir.
d. Menghasilkan dan Memamerkan Hasil/Karya
Pada pembelajaran berdasarkan masalah, siswa bertugas menyusun hasil penelitiannya dalam bentuk karya (karya tulis atau penyelesaian) dan memamerkan hasil karyanya. Artinya, hasil penyelesaian masalah siswa ditampilkan atau dibuatkan laporannya.
e. Kolaborasi
Pada pembelajaran berdasarkan masalah, tugas-tugas belajar berupa masalah yang harus diselesaikan bersama-sama antar siswa dengan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar, dan bersama-sama antar siswa dengan guru.
Dari ciri-ciri di atas terlihat bahwa model pembelajaran berdasarkan masalah memberi penekanan pada masalah yang autentik dan berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu. Berdasarkan pada masalah tersebut siswa melakukan aktivitas pemecahan masalah/penyelidikan untuk memecahkan masalah tersebut. melalui aktivitas pemecahan masalah/penyelidikan diharapkan siswa dapat menemukan keterampilan-keterampilan atau konsep-konsep yang lebih sederhana. Dari uraian ini jelas bahwa model pembelajaran berdasarkan masalah menggunakan pendekatan top-down yang merupakan salah satu ciri dari pembelajaran berbasis konstruktivisme.

3. Langkah-langkah Model Pembelajaran Masalah
Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan metode pembelajaran berdasarkan masalah. John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah model pembelajaran berdasarkan masalah yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu:
1. Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.
2. Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
3. Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
4. Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
5. Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
David Johnson & Johnson mengemukakan ada 5 langkah metode pembelajaran berdasarkan masalah melalui kegiatan kelompok.
1. Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas tentang masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga pada akhirnya siswa dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
3. Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berfikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
4. Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5. Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan; sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.
Menurut Arends (1997:161) bahwa, pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 fase atau langkah utama yang diawali dengan orientasi guru dan siswa pada masalah serta diakhiri dengan penyajian dan analisa kerja siswa. Kelima fase tersebut disajikan dalam tabel berikut:

Tabel: 02. Sintaks Model Pembelajaan Berdasarkan Masalah
Fase Kegiatan
1. Orientasi siswa pada masalah • Menjelaskan tujuan pembelajaran, hal-hal yang anggap perlu, dan memotivasi siswa dalam melakukan kegiatan pemecahan masalah
• Mengajukan masalah
• Memotivasi siswa terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih
2. Mengorganisasi siswa dalam belajar • Membagi siswa ke dalam kelompok
• Membantu siswa dalam mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas yang berkaitan dengan masalah.
3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok • Mendorong siswa dalam mengumpulkan informasi yang diperlukan, melaksanakan eksperimen, dan penyelidikan untuk menjelaskan masalah.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya • Membantu siswa dalam merencanakan dan mempersiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka membagi tugas dengan temannya.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah • Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses yang digunakan.

4. Pelaksanaan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pelaksanaan model pembelajaran berdasarkan masalah dalam kegiatan belajar mengajar didasarkan pada kelima fase tersebut. adapun rincian kegiatan pada setiap fase adalah sebagai berikut;
Fase 1 : Orientasi siswa pada masalah
Pada tahap ini guru menyampaikan tujuan pembelajaran, serta menjelaskan model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Pada kesempatan ini guru juga memotivasi siswa. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan meotivasi, guru mengajukan masalah dan meminta siswa mengemukakan ide dan teori yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah tersebut.
Fase 2 : Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Pada kegiatan ini siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan kemampuan. Kriteria kemampuan dilihat dari hasil pretest. Sehingga satu kelompok terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan kurang mampu. Hal ini dilakukan dengan tujuan dalam menganalisis, masalah yang akan diberikan setiap kelompok mempunyai penyelesaian yang dapat diandalkan. Penyelesaian awal yang didapat akan menarik untuk didiskusikan dan dipertahankan kebenarannya. Selain itu pertimbangkan kemudahan dalam mengikuti prosedur PBI dan memberikan motivasi kepada siswa yang kurang mampu untuk mengejar ketinggalan selama ini. Secara tidak langsung pembagian kelompok ini akan memberikan bimbingan kepada siswa yang kurang mampu dalam menganalisa suatu masalah.
Fase 3 : Membantu siswa memecahkan masalah
Dalam hal ini, siswa melakukan penyelidikan/pemecahan masalah. Pada tahap ini guru mendorong siswa mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen sampai mereka benar-benar mengerti dimensi situasi permasalahan. Tujuannya ialah agar siswa dalam mengumpulkan informasi cukup untuk mengembangkan dan menyusun ide-idenya sendiri. Selain itu guru mengajukan permasalahan/pertanyaan yang dapat dipikirkan siswa, dan memberikan berbagai jenis informasi yang diperlukan siswa untuk menemukan penyelesaian awal arena masih harus didiskusikan pada tahap berikutnya.
Fase 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pada kegiatan ini guru menyuruh salah seorang anggota kelompok untuk mempresentasikan hasil pemecahan masalah kelompok dan guru membantu jika siswa mengalami kesulitan. Kegiatan ini berguna untuk mengetahui hasil sementara pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan.
Fase 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tahap akhir pembelajaran berdasarkan masalah, guru membantu menganalisis dan mengevaluasi proses berfikir siswa. Sedangkan siswa menyusun kembali hasil pemikiran dan kegiatan yang dilampaui pada setiap tahap pembelajaran. Dan guru membimbing siswa menyimpulkan pembalajaran serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan di rumah.

5. Metode Pemecahan Masalah
Masalah adalah suatu situasi (dapat berupa pertanyaan atau issu) yang disadari dan memerlukan suatu tindakan pemecahan, serta tidak segera tersedia suatu cara untuk mengatasi situasi itu. Bell (198:310) memberikan definisi masalah sebagai berikut : “a situation is a problem for a person if he or she aware of existence, recognize that it requires action, wants or need to act and does so, and is not immediately able to resolve the problem”.
Dari definisi di atas, ciri-ciri suatu situasi yang dapat dinyatakan sebagai masalah adalah situasi itu sendiri, ada kemauan dan merasa perlu melakukan tindakan untuk mengatasinya, serta tidak segera dapat ditemukan cara mengatasi situasi tersebut.
Demikian pula suatu pertanyaan merupakan masalah bagi seorang siswa, tetapi belum tentu merupakan masalah bagi siswa yang lain. menurut Polya (dalam Hudoyo, 1989:2), syarat suatu masalah bagi seorang siswa adalah:
1. Pertanyaan yang diharapkan kepada seorang siswa haruslah dapat diterima oleh siswa tersebut.
2. pertanyaan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan prosedur rutin yang telah diketahui oleh siswa. Karena itu faktor waktu jangan dipandang sebagai hal yang esensial.
Di dalam matematika, “suatu soal atau pertanyaan akan merupakan suatu masalah apabila tidak terdapat aturan/hukum tertentu yang segera dapat digunakan untuk menjawab atau menyelesaikan” (Hudoyo: 198). Hal ini berarti bahwa suatu soal matematika akan menjadi masalah apabila soal itu tidak memberikan petunjuk penyelesaian.
Di dalam matematika terdapat dua jenis masalah menurut Polya (dalam Hudoyo, 1989:158) yaitu:
a) Masalah untuk menemukan berupa teoritis atau praktis, abstrak atau konkrit, termasuk teka teki. Kita harus mencari semua variabel tersebut; kita mencoba untuk mendapatkan, menghasilkan atau mengkonstruksi semua jenis obyek yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah itu. Bagian utama dari masalah itu adala (1) apakah yang dicari?, (2) bagaimana data yang diketahui?, (3) bagaimana syaratnya?. Ketiga bagian utama tersebut sebagai landasan untuk dapat menyelesaikan masalah jenis ini.
b) Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu benar atau salah, tidak kedua-duanya. Kita harus menjawab pertanyaan “apakah pertanyaan itu benar atau salah?. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesa dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. Kedua bagian utama tersebut sebagai landasan untuk dapat menyelesaikan masalah ini.
Setiap masalah tentu akan diselesaikan untuk menemukan jawabannya atau pemecahan masalahnya. Menurut Polya (dalam Hudoyo, 1989:112), pemecahan masalah merupakan usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan untuk mencapai suatu tujuan yang tidak segera dapat dicapai. Menurut Polya (dalam Orton, 1992), ada empat tahap yang dapat dilakukan dalam memecahkan masalah yaitu : (1) memahami masalah, (2) membuat suatu rencana, (3) melaksanakan rencana tersebut, dan (4) memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh.
Membelajarkan siswa memecahkan masalah dengan pemecahan masalah akan memungkinkan siswa lebih kritis dan analitis, sehingga siswa menjadi lebih baik dalam pendidikannya dan dalam kehidupan sehari-hari.
Dikatakan juga bahwa strategi pembelajaran di masa datang, sebab mampu mengaktifkan peserta didik, meningkatkan motivasi belajar dan kemandirian peserta didik mudah dikontrol. Akan tetapi ada juga kendalanya yaitu banyaknya peserta didik dalam satu kelas sehingga akan menggunakan waktu yang banyak dan membimbing peserta didik memecahkan masalah.

6. Keunggulan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Berdasarkan masalah.
a. Keunggulan
Sebagai suatu strategi pembelajaran, metode pembelajaran berdasarkan masalah memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:
1. Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
2. Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
3. Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa
4. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
5. Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
6. Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematikan, IPA, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berfikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
7. Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
8. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
9. Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
10. Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
b. Kelemahan
Di samping keunggulan, model pembelajaran berdasarkan masalah juga memiliki kelemahan diantaranya:
1. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.






DAFTAR PUSTAKA



Nurhayati 2006 Model pembelajaran berdasarkan masalah .http://66.102.9.104/search?q=chace:PU669mSZj7sK:www.depdiknas.go.id/Jurnal/51/04040429%2520-ed-%2520nurhayati-penerapan%2520pembelajaran.pdf+model+pembelajaran+berdasarkan+masalah&hl=id&gl=id&ct=clnk=cd=2.

Sanjaya, Wina, 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana, Prenada Aedia Group.
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT
(Team Game Tournament)

Tipe TGT merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang diteliti secara luas. Tipe TGT sangat terkenal dan populer dikalangan para ahli pendidikan. Pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan model yang sangat mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsure permainan dan reinforcement. Secara garis besar, uraian tentang model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut :
1. Komponen TGT
Menurut Slavin ( 1994 : 84 ) ada 5 komponen utama dalam TGT yaitu: penyajian kelas (class presentation), kelompok (team), kuis (games), kompetisi (tournament) dan penghargaan kelompok (class recognition).
a. Penyajian Kelas (Class Presentation)
Presentasi kelas digunakan guru untuk memperkenalkan materi pelajaran dengan pengajaran langsung atau diskusi dapat juga dengan audiovisual. Fokus presentasi kelas hanya menyangkut pokok – pokok materi dan teknik pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar – benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena akan menentukan skor game dan ini akan menentukan pula pada skor kelompok.
b. Kelompok (Team)
Dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT tim terdiri dari 4 sampai 6 siswa anggota kelas. Anggota tim mewakili kelompok yang ada di kelas dam hal kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku. Fungsi utama tim tersebut adalah untuk memastikan bahwa semua anggota tim belajar, lebih khusus lagi untuk menyiapkan anggotanya supaya dapat mempelajari LKS dan mengerjakan soal – soal dalam turnamen dengan baik. Setelah presentasi kelas kegiatan tim umumnya adalah diskusi antar anggota saling membandingkan, memeriksa dan mengoreksi kesalahan konsep anggota lain.
c. Kuis (Games)
Pertanyaan dalam games disusun dan dirancang dari materi – materi yang relevan dengan materi yang telah diperoleh mewakili masing – masing kelompok. Sebagian besar pertanyaan pada kuis adalah bentuk sederhana. Setiap siswa mengambil sebuah kartu yang diberi nomor pada kartu tersebut.
d. Kompetisi (Tournament)
Turnamen adalah dimana saat permainan berlangsung. Ilustrasi antara tim – tim yang anggotanya heterogen dan meja – meja turnamen dengan anggota yang homogen.

TIM A















Gambar 1
Penempatan Siswa dan Tim ke Meja Turnamen

Gambar diatas menunjukkan bahwa penempatan siswa pada meja turnamen berdasar rangking siswa dalam tim. Meja turnamen 1 adalah meja tempat berkompetisi siswa dengan kemampuan awal tertinggi dalam tim sebagai meja yang tertinggi tingkatannya daripada meja turnamen II. Meja turnamen II lebh tinggi tingkatannya daripada meja turnamen III. Meja IV adalah meja yang paling rendah tingkatannya.
Setelah turnamen selesai dan dilakukan penilaian guru mengatur kembali kedudukan siswa pada tiap meja turnamen, kecuali pemenang pada meja tertnggi. Pemenang pada setiap meja dinaikkan atau digeser satu tingkat ke meja yang lebih tinggi tingkatannya dan yang mendapatkan skor terendah pada setiap meja turnamen selain yang ada pada meja terendah tingkatannya diturunkan satu tingkat ke meja yang lebih rendah tingkatannya. Pada akhirnya mereka akan mengalami penaikkan atau penurunan sehingga mereka akan sampai pada meja yang sesuai dengan kinerja mereka.
e. Penghargaan Kelompok (Class Recognition)
Tim – tim yang telah berhasil mendapat nilai rata – rata melebihi criteria tertentu diberi penghargaan berupa sertifikat atau penghargaan bentuk lain.

2. Persiapan Pembelajaran
Menurut Slavin ( 1994 : 88 ) persiapan – persiapan pembelajaran kooperatif tipe TGT meliputi persiapan materi, penetapan siswa dalam tim, kerjasama tim, penempatan siswa pada meja turnamen. Adapun uraian persiapan masing – masing adalah sebagai berikut :
a. Persiapan Materi
Materi pelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga dapat disajikan dalam presentasi kelas dalam kerjasama ini dan dalam turnamen. Bentuk rancangan tersebut dapat dikemas dalam satu perangkat pembelajaran yang terdiri dari program satuan pelajaran, rencana pembelajaran, buku petunjuk guru, buku siswa, lembar kegiatan siswa yang akan dipelajari siswa dalam belajar kelompok, kelengkapan turnamen yang akan digunakan dalam turnamen akademik, dan test hasil belajar.

b. Penempatan Siswa dalam Tim
Setiap tim dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT sebanyak 4 – 6 siswa, yang terdiri dari siswa pandai, sedang, dan kurang. Selain itu dalam pembagian kelompok guru sebaiknya mempertimbangkan criteria lainnya misalnya jenis kelamin, latar belakang social, kinerja, suka atau tidak suka lainnya. Siswa rangking pertama pada setiap tim pada meja I, empat rangking berikutnya pada meja II, empat rangking berikutnya pada meja III dan seterusnya. Penempatan siswa pada meja turnamen dari contoh di atas tampak pada table I.
c. Penempatan Siswa Pada meja Turnamen
Dalam satu meja turnamen terdiri dari 3 sampai 4 siswa yang ber kompetensi dengan kemampuan setara dan sebaga wakil tim yang berbeda. Misalkan satu kelas yang terdiri atas 20 siswa terbentuk dalam 4 tim dan setiap tim 5 – 6 siswa, diinginkan dalam satu meja turnamen terdiri dari 3 – 4 siswa sehingga akan terdapat 6 meja turnamen. Lima meja masing – masing terdiri 4 siswa dan satu meja dengan 3 siswa.
Table 1
Contoh : Penerapan Siswa pada Meja Turnamen
No. Siswa Tim Meja Siswa pada turnamen Ke -
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Sam I 1
2 Maria II 1
3 Tom III 1
4 Kim IV 1
5 Ruth IV 2
6 Sylvia III 2
7 Liz II 2

Nomor – nomor meja turnamen hanya ada pada catatan guru, sewaktu mengumumkan kepada siswa nomor meja diganti misalnya dengan huruf atau dengan menyebut meja – meja tersebut dengan meja biru, meja merah, meja kuning dan lainnya sehingga siswa tidak tahu secara tepat bagaimana penempatan siswa yang dilakukan guru pada setiap meja turnamen.

3. Langkah dan Aktivitas Pembelajaran
Langkah – langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT mengikuti urutan berikut : pengaturan klasikal, belajar kelompok, turnamen akademik, penghargaan tim dan pemindahan atau bumping.
a. Pengaturan Klasikal dan Belajar Kelompok
Pembelajaran diawali dengan memberikan pelajaran selanjutnya diumumkan kepada siswa penugasan tim dan siswa diminta memindahkan bangku untuk membentuk meja tim. Kepada siswa disampaikan bahwa mereka akan bekerjasama dengan tim selama beberapa minggu, dan mengikuti turnamen akademik untuk memperolehatau menambah poin bagi nilai tim mereka, serta diberitahukan bahwa tim yang mendapat nilai tinggi akan menilai penghargaan.
b. Turnamen Akademik dan Penskoran
Kegiatan dalam langkah tuurnamen adalah persaingan pada meja turnamen dari 3 – 4 siswa berasal dari tim yang berbeda dengan kemampuan setara. Pada permulaan turnamen, diumumkan penetapan meja bagi setiap siswa. Siswa diminta mengatur meja turnamen dan menyuruh siswa menuju ke meja turnamen yang telah ditetapkan. Nomer meja turnamen dapat diacak. Setelah kelengkapan dibagikan turnamen dapat dimulai. Bagan dari putaran permainan dengan 3 orang dalam satu meja turnamen digambarkan sebagai berikut :








Pembaca










Untuk memulai game, siswa mengadakan undian untuk menentukan pembaca pertama, penantang I, dan penantang II. Urutan permainan searah jarum jam dari pembaca pertama. Selanjutnya pembaca pertama mengocok kartu yang paling atas. Dia kemudian membaca dengan keras pertanyaan yang ada pada kartu, dan membacakan kemungkinan jawaban jika jenis soalnya pilihan ganda. Misal seorang siswa mengambil kartu nomor 21, kemudian membaca dan menjawab pertanyaan tersebut. Pembaca kartu yang tidak yakin akan jawabannya diijinkan menebak tanpa hukuman.
Jika isi permainan memuat kasus maka semua siswa harus mengerjakan kasus tersebut sehingga mereka siap untuk menantang. Setelah pembaca memberikan jawaban,siswa disebelah kirinya (penantang) yang memiliki jawaban yang tidak sama menantang dan memberikan jawabanya. Jika dia lolos, atau jika penantang kedua memiliki jawaban yang berbeda dengan penantang pertama, penantang kedua boleh menantang.
Para penantang harus berhati –hati karena mereka harus mengemballikan kartu kemenangan (jika punya) di dalam kotak jika mereka menjawab salah. Ketika semua orang telah menjawab, menantang atau lolos, penentang kedua mengecek lembar jawab (ada pada guru) dan membaca jawaban yang benar. Pemain yang menjawab benar menyimpan kartu.jika kedua penantang menjawab salah, dia harus mengembalikan kartu kemenangan sebelumnya (jika ada).
Untuk putaran berikutnya, penantang I menjadi pembaca, penantang II menjadi penantang I dan pembaca menjadi penantang II, demikian seterusnya seperti yang ditentukan guru sampai waktu habis atau tumpukan kartu habis. Ketika permainan selesai, pemain mencatat jumlah kartu yang mereka menangkan pada lembar skor game pada kolom game 1 (table 2). Jika masih ada waktu, dan permainan dilanjutkan, siswa mengocok ulang tumpukan kartu dan bermain permainan kartu kedua sampai waktu berakhir. Selanjutnya catat nomor kartu yang dimenangkan pada kolom game 2 pada lembar skor game pada table 2.
Table 2
Lembar Skor Game TGT
Meja :………………….
Putaran :…………………
Pemain Team Game 1 Game 2 Game 3 Total harian Poin Putaran
Junot 5 6 11 20
Nia 13 9 22 60
Andi 10 11 21 40

Semua siswa harus bermain pada waktu yang sama. Sambil mereka bermain, pindah dari grup ke grup untuk menjawab pertanyaan dan yakinkan bahwa setiap orang memahami prosedur permainan. Sepuluh menit sebelum permainan baerakhir perintahkan siswa untuk berhenti dan menghitung kartunya. Kemudian mereka harus mengisi nama mereka, tim, skor pada lembar skor game seperti table 2.
Perintahkan siswa menambah skor yang mereka peroleh pada setiap game jika mereka bermain lebih dari satu kali, dan isilah dalam jumlah total skor harian mereka. Untuk siswa yang usianya lebih muda hanya mengumpulkan lembar skor, dan siswa yang usianya lebih dewasa suruh menghitung skor mereka sendiri, seperti ditunjukkan pada table 3, table 4, table 5 sebagai contoh menghitung poin turnamen untuk semua hasil turnamen.


Table 3
Menghitung Poin Turnamen Untuk Permaianan 4 Pemain
Tingkatan Skor Pemain Tidak Seri Seri Pada tingkat tinggi Seri pada tingkat sedang Seri pada tingkat rendah Seri pada 3 Tertinggi Seri pada 3 terendah Semua seri Seri untuk Rendah dan Tinggi
Tinggi 60 50 60 50 60 60 40 50
Tinggi
Sedang 40 50 40 40 50 30 40 50
Sedang
Rendah 30 30 40 30 50 30 40 30
Rendah 30 20 20 30 20 30 40 30

Table 4
Menghitung Poin Turnamen untuk Permaianan 3 Pemain
Tingkatan Skor Pemain Tidak Seri Seri untuk Tingkat Tinggi Seri untuk Tingkat Rendah Semua Seri
Tinggi 60 50 60 40
Sedang 40 50 30 40
Rendah 20 20 30 40

Table 5
Menghitung Poin Turnamen untuk Permainan 2 Pemain
Tingkatan Skor Pemain Tidak Seri Seri
Tinggi 60 40
Rendah 20 40



c. Pengakuan Tim
Untuk menghitung skor tim dan mempersiapkan sertifikat atau penghargaan lain, dilakukan langkah – langkah sebagai berikut :
1. Menghitung Skor Tim
Setelah selesai turnamen, menghitung skor tim dan mempersiapkan sertifikat atau penghargaan lain untuk tim dengan skor tinggi. Untuk melakukan ini ceklah poin turnamen pada skor permainan, kemudian pindahkan poin turnamen masing – masingpada lembar ringkasan pada masing – masing tim, tambahkan semua skor anggota tim dan bagilah nomor anggota tim yang hadir. Table 6 menunjukkan pencatatan dan penjumlahan skor untuk satu tim.

Table 6
Contoh : Lembar Ringkasan Skor Tim

Anggota Tim 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Mark 60 20 20 40
Kevin 40 40 20 60
Lisa A 50 20 40 60
John F 60 60 20 40
Dewanda 40 40 60 20
Total skor tim 250 180 160 220
Rata – rata tim 50 36 32 44
Penghargaan Super tim Good tim

2. Pencapaian Pengakuan Tim
Tiga tingkatan penghargaan pada TGT diberikan pada skor tim rata – rata. Tiga tingkatan penghargaan tersebut adalah sebagai berikut :

Skor rata – rata tim Penghargaan
40 Good Team
45 Great Team
50 Super Team

Tim yang mencapai criteria Great Team atau Super Team boleh diberi sertifikat penghargaan, sedangkan untuk Good Team sebaiknya diberi ucapan selamat saja di dalam kelas. Kemenangan bisa diumumkan di papanpengumuman di sekolah, bila perlu pasang foto mereka dan nama timnya. Hal ini akan memberi motivasi siswa untuk membantu teman timnya belajar.
d. Bumping
Menurut Slavin ( 1994 : 91 ), bumping atau penempatan kembali siswa pada meja turnamen baru harus dilakukan untuk mempersiapkan turnamen berikutnya. Melakukan bumping lebih mudah ketika sedang menghitung skor tim. Gambar 3 merupakan prosedurnya, table 7 menggambarkan lembar penempatan meja turnamen yang lengkap dimana menunjukkan bagaimana bumping bekerja setelah dua turnamen. Untuk menempatkan kembali siswa menggunakan langkah – langkah sebagai berikut :
1. Gunakan lembar skor game untuk mengidentifikasi skor tertinggi dan rendah pada masing – masing meja turnamen. Pada lembar penempatan meja turnamen, lingkarilah meja penempatan untuk semua siswa yang memiliki skor paling tinggi pada meja mereka. Jika ada skor sama untuk skor tinggi pada meja – meja, putarlah koin untuk memutuskan nomor mana yang akan dilingkari, jangan melingkari lebih dari satu nomor per meja. Pada table 7 memperlihatkan Tyrone, Maria, Tom, Carla, dan Ralp sebagai pemenang pada turnamen pertama, maka nomor meja mereka dilingkari pada kolom pertama. Tyrone, Liz, John F, Tanya, dan Ruth merupakan pemilik skor tertinggi pada turnamen kedua, maka nomor mereka dilingkari pada kolom kedua.
2. Garisbawahi nomor meja siswa yang mendapatkan skor lebih rendah, danlagi jika ada penyamaan untuk skor rendah pada beberapa meja, putarlah koin untuk memutuskan mana yang harus digaris bawahi, jangan menggarisbawahi lebih dari satu nomor per meja. Pada table 7 Sarah, John F, dan Sherly memiliki skor rendah pada meja mereka pada turnamen pertama.
3. Tinggalkan semua penempatan meja yang lain termasuk nomor untuk sisiwa yang absen
4. Pada kolom untuk turnamen berikutnya, transfer nomornya ssebagai berikut : jika nomornya dilingkari, kurangi 1 ( 4 menjadi 3 ). Maksudnya bahwa pemenang pada meja 4 akan bersaing minggu berikutnya pada meja 3, yaitu meja kompetisi yang lebih sulit. Perkecualiannya hanyalah 1 sisa 1, karena meja 1 adalah meja tertinggi. Jika nomornya digarisbawahi, naikkan 1 ( 4 menjadi 5 ), kecual meja terendah, dimana pemilik skor terendah pada masing – masing meja akan bersaing minggu depan pada meja yang kompetisinya tidak terlalu sulit. Jika mejanya tidak juga digarisbawahi, transferlah ke nomor yang sama.
Tim 1
  
Tim 2
  
Tim 3
  
Tim 4
  
Tim 5
  
Gambar 3 Bumping
Pada table 7 catatlah bahwa Tom pemilik skor tertinggi pada meja 3 pada turnamen pertama telah dipindah ke meja 2. Pada meja 2 dia memiliki skor terendah, maka untuk minggu ketiga turnamen dia akan bertanding pada meja 3 lagi. Sylvia pemilik skor sedang pada meja 3 pada turnamen pertama maka ia tetap di meja 3, kemudaian dia memiliki nilai rendah pada turnamen kedua dan pindah ke 4.
Table 7
Lembar Tabel Penempatan Turnamen
No. Siswa Tim
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Sam Orioles 1 1 2
2 Sarah Cougars 1 2 2
3 Tyrone Whis Kids 1 1 1
4 Maria Geniuses 2 1 1
5 Liz Orioles 2 2 1
6 John J Cougars 2 3 1
7 Sylvia Whis Kids 3 3 4
8 Tom Geniuses 3 2 3
9 John F Orioles 3 4 5
10 Tanya Cougars 4 4 3
11 Carla Whis Kids 4 3 3
12 Kim Geniuses 4 5 5
13 Carlos Orioles 4 4 4
14 Sherly Cougars 5 5 5
15 Ralph Whis Kids 5 4 4
16 Ruth Geniuses 5 5 4
Catatan : 3 menunjukkan pemilik skor tinggi meja 1
3 menunjukkan pemilik skor sedang meja 2
3 menunjukkan pemilik skor rendah meja 3

Hitunglah nomor siswa yang ditempatkan pada masing – masing meja untuk turnamen minggu depan. Kebanyakan meja terdiri dari 3 siswa, sebanyak 2 meja boleh berisi 4. Jika penempatan meja tidak berjalan semestinya karena mungkin ada siswa yang absent, buatlah perubahan sehingga tetap bekerja. Juga diperbolehkan merubah penempatan meja untuk menghindari satu meja yang berasal dari tim yang sama.
Catatlah bahwa table 7 Tyrone pemilik skor tertinggi dua kali pada meja 1 tetapi tidak berubah meja, karena tidak ada tempat yang lebih tinggi daripada meja 1. Sherly dan Kim pemilik skor terendah pada meja 5 tetapi tidak dipindah ke bawah karena meja 5 merupakan meja terendah.

e. Merubah Tim
Setelah 5 atau 6 minggu pelaksanaan TGT atau pada akhir periode penilaian atau unit, tempatkan siswa dengan tim baru.
f. Mengkombinasikan TGT dengan Aktifitas Lain
Menurut Slavin ( 1994 : 95 ), guru dapat menggunakan TGT untuk satu bagian dari pembelajaran dan metode lain untuk bagian lain. Missal, guru lain boleh menggunakan TGT satu minggu untuk masing – masing konsep dasar, tetapi gunakan latihan – latihan yang menggunakan laboratorium untuk dua hari berikutnya. Prosedur ini memberikan ide guru lebih baik untuk kemajuan siswa daripada turnamen saja. TGT sangat berguna dalam memberikan pemahaman bagi siswa pada materi yang dipelajari.
g. Penilaian
TGT tidak secara otomatis menghasilkan nilai yang dapat digunakan untuk menghitung skor individu. Kalau ini terjadi akan menjadi hal yang serius, pertimbangkan untuk menggunakan model lain sebagai pengganti TGT. Untuk menentukan nilai individual, banyak guru yang menggunakan TGT memeberikan mid test atau final test pada masing – masing semester, beberapa guru memberikan kuis setelah turnamen tidak dalam poin skor turnamen atau skor tim. Akan tetapi poin turnamen siswa atau skor tim dapat dibuat bagian kecil dari nilai mereka, atau jika sekolah dapat memberikan nilai terpisah agar supaya nilai ini dapat digunakan untuk nilai usaha.

Kebaikan dan kelemahan pembelajaran kooperatif tipe TGT
Kebaikan :
a. Dalam kelas kooperatif siswa memiliki kebebasan untuk berinteraksi dan menggunakan pendapatnya.
b. Rasa percaya diri siswa menjadi lebih tinggi.
c. Perilaku mengganggu terhadap siswa lain menjadi relative lebih kecil.
d. Motivasi belajar siswa menjadi lebih besar.
e. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, toleransi antara siswa dengan siswa antara siswa dengan guru.
Siswa dapat menelaah sebuah mata pelajaran atau pokok bahasan, bebas mengaktualisasikan diri dengan seluruh potensi yang ada dalam diri siswa tersebut dapat keluar. Selain itu kerjasama antar siswa dengan guru akan membuat interaksi belajar dalam kelas menjadi hidup dan tidak membosankan.

Kelemahan
a. Sering terjadi dalam kegiatan pembelajaran tidak semua siswa ikut serta mengembangkan pendapatnya.
b. Kekurangan waktu untuk proses pembelajaran.
c. Kemungkinan terjadi kegaduhan kalau guru tidak dapat mengelola kelas.
Guru yang kurang cerdas dalam mengelola kelas dan siswa akan menjadi penyebab kegagalan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT sebab dibutuhkan kecerdasan emosi untuk memotivasi siswa dalam mengaktualisasikan diri dan mengelola waktu dengan sebaik mungkin
Ciri khas yang membedakan metode pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan metode pembelajaran kooperatif lainnya adalah adanya turnamen yang mempertandingkan antar kelompok.
DAFTAR PUSTAKA


Khasanah, nur.2006 Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Time Game Tournament (TGT) dan Numbered Head Together (NHT) terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa di SMP N 1 Padamara Purbalingga, Skripsi.

Kusno. 2005. Diktat Belajar Pembelajaran. Tidak Dipublikasikan. UMP: Purwokerto.

-----------. 2006. Pembelajaran. http://learning-with-me.blogspot.com/2006/09/pembelajaran
html#33. .
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

I. Model Pembelajaran Kooperatif Secara umum
A. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Dalam membelajarkan matematika kepada siswa, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran matematika cenderung berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga mengakibatkan peserta didik (siswa) merasa jenuh dan tersiksa. Oleh karena itu dalam mengajarkan matematika kepada siswa, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung tujuan pembalajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tinggkat perkembangan peserta didik, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada.
Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaranyang sudah direncanakan. Oleh karena itu, pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk stategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model penbelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar.
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu mosel pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok dan mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran dengan model kooperatif, siswa didorong untuk bekerjasama dalam suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran koopeatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkatdan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial. (Yusuf, 2003)
Pembelajaran kooperatif adalah pemebelajaran yang bertujuan untuk menciptakan situasi pembelajaran sehingga keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompok atau timnya.

B. Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif
Beberapa ciri dari pembelajaran kooperatif adalah:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatifuntuk menuntaskan materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
c. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku dan jenis kelamin yang berbeda.
d. Pengarahan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.

C. Dasar-Dasar Pembelajaran Kooperatif
Linda (dalam nur : 2000) mengemukakan bahwa yang mendasari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
a. Para siswa harus memiliki persepsi yang sama bahwa mereka tenggelam atau berenang bersama.
b. Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab pada diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c. Para siswa harus bepandangan bahwa mereka semua harus memiliki tujuan yang sama.
d. Para siawa harus membagi tugas dan berbagai tanggung jawab yang sama besrnya diantara para anggota kelompok.
e. Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f. Para siswa berbagai kepemimpinam sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
g. Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
h. Dengan memiliki dasar-dasar diatas, siswa akan menyadari bahwa keberhasilan belajarnya sangat ditentukan oleh pengelolabelajar dan teman belajar dalam timnya.
Dasar-dasar diatas pada akhirnya mewarnai situasi pembelajaran kooperatifdan akan membedakan dengan situasi belajar kelompok dalam pembelajaran lain.

D. Keterampilan Kooperatif
Keterampilan kooperatif merupakan keterampilan khusus yang seyogianya dimiliki siswa dalam pembelajaran kooperatif. Khususnya pada langkah belajar kelompok, keterampilan kooperatif berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota tim. Sedangkan peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar anggota tim selama kegiatan.

E. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif
Secara umum langkah-langkah pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
FASE TINGKAH LAKU GURU
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dengan memotivasi siswa belajar.
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Mengorganisasi siswa kedalam kelompok-kelompok belajar. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan.
Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

F. Manfaat Pembelajaran Kooperatif
Berdasarkan hasil penelitian thomson dan silvain (2000) dapat dikemukakan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran kooperatif yaitu:
a. Meningkatkan pencurhan waktu pada tugas
b. Meningkatkan rasa harga diri
c. Memperbaiki kehadiran
d. Saling memahami adanys perbedaan individu
e. Mengurangi konflik antar pribadi
f. Mengurangi sikap apatis
g. Memperdalam pemahaman
h. Meningkatkan motivasi
i. Meningkatkan hasil belajar
j. Menguatkan retensi
G. Tipe-Tipe Pembelajaran Kooperatif
Dipandang dari tahapan dan aktivitas pembelajarannya, pemblajaran kooperatif dibedakan dalam beberapa tipe antara lain:
a. Student Team Achievement Division (STAD)
b. Teams Games Tournaments (TGT)
c. Teams Assisted Individualization (TAI)
d. Jigsaw.

II. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
A. Pengertian
Pembelajaran koperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materibelajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Andreas, 1997).

Kelompok Asal







Kelompok Ahli
Beberapa penelitian menunjukan bahwa model pembelajaran tipe jigsaw memiliki dampak yang positif terhadap kegiatan belajar mengajar, yakni dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran.



B. Sejarah dan Latar Belakang
Jigsaw pada mulanya diperkenalkan di sekolah-sekolah dimana ada ketegangan rasialis antara siswa keturunan eropa, afrika dan hispanik. Kemudian telah dikembangkan oleh Elliot Aronson dkk di Universitas John hopkins. Siswa diajak untuk berinteraksi secara positif dengan siswa-siswa lain dengan latar belakang yang sangat berbeda dalam kegiatan akademis. Dan memang konflik rasialis berhasil dikurangi secara drastis dan prestasi akademik punjadi meningkat. Ternyata orang eropa sendiri mulai menyadari bahwa individualisme saja tidaklah cukup. Keberhasilan orang-orang amerika di berbagai kehidupan sudah mendapat pengakuan di seluruh dunia. Namun, patut dipertanyakan apalah artinya keberhasilan pribadi jika tidak ditindak lanjuti dan diterapkan dalam masyarakat. Banyak penemuan dalam bidang iptek berasal dari Amerika Serikat namun, ironisnya yang lebih bisa mengembangkan menikmati hasil temuan ini adalah bangsa lain yang lebih terbiasa untuk lebih bekerjasama dalam saling ketergantungan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw diantaranya adalah dibutuhkan proses yang melibatkan niat dan kiat para anggota kelompok. Para siswa harus mempunyai niat intuk bekerjasama dengan yang lainnya dalam kegiatan belajar yang akan saling menguntungkan. Selain niat, para siswa juga harus menguasai kiat-kiat berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Dalam hal penataan ruang kelas pada tipe jigsaw perlu memperhatikan prinsip-prinsip tertentu. Bangku perlu ditata sedemikian rupa, sehingga semua siswa bisa melihat guru/papan tulis dengsn jelas, bisa melihat rekan-rekan kelompoknya dengan merata. Jarak antar kelompok bisa saling berdekatan dengan satu sama lain, tetapi tidak mengganggu kelompok yang lain dan guru bisa menyediakan sedikit rung kosong disalah satu bagian kelas untuk kegiatan lain.

C. Proses
 Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
a. Guru menginformasikan kepada siswa tentang sistem pembelajaran tipe jigsaw.
b. Guru membagi bahan pelajaran yang akan diberikan.
c. Sebelum bahan pelajaran diberikan, guru memberikan pengenalan melalui topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari tersebut. Pengajar bisa menuliskan topik dipapan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut.
d. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran baru.
e. Guru membagi dengan anggota 4-5 orang tiap kelompok dengan karakteristik yang heterogen.
f. Siswa berpencar membentuk kelompok baru menurut tugas yang sama.
g. Siswa kembali ke kelompok sal untuk mengerjakan tugas utama.

 Kegiatan Siswa Dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah serta jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan gender. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelomok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli.
Dalam kelompok ahli siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh aronson disebut kelompok jigsaw.




Contoh pembentukan kelompok jigsaw sebagai berikut:








Misal suatu kelas dengan jumlah siswa 40, dan materi pembelajan yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beraggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh dalam diskusi dikelompok ahli serta setiap siswa menyampaikan apa yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal. (Yusuf, 2003)

D. Penghargaan Kelompok
Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok dijelaskan sebagai berikut.
Langkah-langkah memberi penghargaan kelompok:
a. menentukan nilai dasar (awal) msaing-masing siswa. Nilai dasar dapat berupa nilai tes.
b. menentukan nilai tes yang dilaksanakan siswa setelah siswa bekerja dalam kelompok, misal nilai kuis I, nilai kuis II atau rata-ratanya kepada setiap siswa yang kita sebut sebagaikuis terkini.
c. menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini dan nilai dasar masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria berikut ini.

kriteria Nilai peningkatan
Nilai kuis terkini turun lebih dari 10 poindibawah nilai awal 5
Nilai kuis terkini turun 1 sampai 10 poin dibawah nilai awal 10
Nilai kuis terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 diatas nilai awal 20
Nilai kius terkini lebih dari 10 diatas nilai awal 30

Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna.
Kriteria untuk status kelompok
Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (rata-rata nilai peningkatan kelompok <15)
Baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 15 dan 20 (15≤ rata-rata nilai peningkatan kelompok<20)
Sangat baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 20 dan 25 (20≤ rata-rata nilai peningkatan kelompok<25)
Sempurna, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok lebih atau sama dengan 25(rata-rata nilai peningkatan kelompok≥25). (Yusuf, 2003)

E. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw:
 Kelebihan
1. Meningkatkan kemajuan belajar (pencapaian akademis)
2. Menambah dan percaya diri
3. Mudah diterapkan dan tidak mahal
4. Mengembangkan dan menggunakan keterampilan berfikir kritis dan kerja sama kelompok
5. Menyuburkan hubungan antar pribadi yang positif diantara siswa yang berasal dari latar belakang yang berbeda
6. Menerapkan bimbingan oleh teman
7. Menciptakan lingkungan yang menghargai nilai-nilai ilmiah
8. Melatih siswa supaya dapat bekerja sama dalam rangka untuk menyatukan konsep dari hasil kelompok.
 Kekurangan
1. Dengan adanya pembentukan kelompok maka tingkat kemampuan penguasaan materi pembelajaran hanya dapat ditinjau dalam lingkup kelompok
2. Sejumlah siswa bingung
3. Memerlukan persiapan lama

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya.UniversityPress Unedi.
Istiqomah, Ari. 2004. Skripsi tentang Model Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Tipe Jigsaw. Purwokerto. UMP.
Lie A. 2002. Cooperatif Learning. Jakarta.Grasindo.

Yusuf. 2003. Proses Dan Hasil Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. www.google.com. 20 September 2007.
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE STAD (STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION)


Quantum Teaching

A. Model Quantum Teaching
Pengertian Quantum Teaching
Menurut Bobbi DePorter sebagai “president of Learning” dan president sekaligus pendiri “the Accelerated Learning Association”, Mark Reardon sebagai guru pembentuk dan kepala sekolah yang memimpin fasilitator dari program tersebut, dan Sarah Singer-Nourie sebagai guru bahasa Inggris SMA dan Quantum Learning K-12. Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum Teaching

biasa didefinisikan sebagai orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar situasi belajar. Interaksi ini mencakup unsure-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa, mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain.
Adapun yang termasuk dalam struktur ini adalah lima unsur pokok yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
1. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Pada intinya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu :
a. Hasil belajar akademik, tujuannya untuk meningkatkan kinerja tugas-tugas akademik
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu, tujuannya adalah penerimaan terhadap orang yang berbeda ras, budaya, kelas sosial, maupun kemampuan.
c. Pengembangan keterampilan sosial, tujuannya adalah untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja siswa.
2. Dasar-dasar Pembelajaran Kooperatif
Yang mendasari pembelajaran kooperatif adalah :
a. Para siswa harus memiliki persepsi yang sama bahwa mereka tenggelam (berenang bersama)
b. Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa yang lain dalam kelompoknya, di samping tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
d. Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab yang sama besarnya diantara para anggota kelompok.
e. Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
g. Para siswa akan dimintai pertanggungjawaban secara individual materi yang ditangai dalam kelompok kooperatif.
h. Dengan memiliki dasar-dasar di atas siswa akan menyadari bahwa keberhasilan belajarnya sangat ditentukan oleh pengelolaan belajar dan teman belajar timnya.
Dasar-dasar di atas pada akhirnya mewarnai situasi pembelajaran kooperatif dan akan membedakan dengan situasi belajar kelompok dengan pembelajaran yang lain.
3. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model-model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bilamana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
4. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Terdapat 6 fase atau langkah utama dalam pembelajaran kooperatif (Arends, 1997 : 113). Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan motivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti siswa dengan penyajian informal, sering dalam teks bukan verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja sama menyelesaikan tugas mereka. Fase terakhir dari pembelajaran kooperatif yaitu penyajian hasil akhir kerja kelompok, dan mengetes apa yang mereka pelajari, serta memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Keenam fase pembelajaran kooperatif dirangkum pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1 Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
FASE KEGIATAN GURU
1. Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi
2. Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
3. Mengorganiasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
5. Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil belajarnya.
6. Memberikan penghargaan Guru memberikan cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompoknya.

5. Manfaat Pembelajaran Kooperatif
Berdasarkan hasil penelitian Thomson (dalam Kusno, 2002 : 69) dapat dikemukakan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pembelajaran kooperatif yaitu :
a. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
b. Meningkatkan rasa harga diri
c. Memperbaiki kehadiran
d. Saling memahami adanya perbedaan individu
e. Mengurangi konflik antar pribadi
f. Mengurangi sikap apatis
g. Memperdalam pemahaman
h. Meningkatkan motivasi
i. Meningkatkan hasil belajar
j. Menguatkan retensi
6. Keterampilan-keterampilan dalam Pembelajaran Kooperatif
Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa juga harus mempelajari keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan membagi tugas anggota kelompok selama kegiatan. Keterampilan-keterampilan kooperatif antara lain sebagai berikut (Lundgren, 1994).
a. Keterampilan Tingkat Awal
1) Menggunakan kesepakatan
Yang dimaksud dengan menggunakan kesepakatan adalah menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan kerja dalam kelompok.
2) Menghargai kontribusi
Menghargai berarti memperhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan orang lain. Hal ini berarti bahwa harus selalu setuju dengan anggota lain, dapat saja dikritik yang diberikan itu ditunjukkan terhadap ide dan tidak individu.
3) Mengambil giliran dan berbagai tugas
Pengertian ini berarti mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas atau tanggung jawab tertentu dalam kelompok.
4) Berada dalam kelompok
Maksud di sini adalah setiap anggota tetap dalam kelompok kerja selama kegiatan berlangsung.
5) Berada dalam tugas
Artinya bahwa meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikannya sesuai waktu yang dibutuhkan.
6) Mendorong partisipasi
Mendorong partisipasi artinya mendorong semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.
7) Mengundang orang lain
8) Menyelesaikan tugas pada waktunya
9) Menghormati perbedaan individu
b. Keterampilan Tingkat Menengah
Keterampilan tingkat menengah meliputi menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat rangkuman, menafsiran, mengatur dan mengorganisasi, serta mengurango ketegangan.
c. Keterampilan Tingkat Mahir
Keterampilan tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.


B. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, sehingga tipe ini dapat digunakan oleh guru-guru yang baru mulai menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. Siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja di kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi pelajaran tersebut. Ahirnya kepada seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut dengan catatan, saat tes mereka tidak boleh saling membantu. Point setiap anggota tim ini selanjutnya dijumlahkan untuk mendapat skor kelompok. Tim yang mencapai kriteria tertentu diberikan penghargaan.
Upaya peningkatan kualitas pembelajaran harus terus diupayakan, baik oleh guru maupun semua pihak yang terkait langsung dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena prestasi belajar siswa yang menggembirakan. Walaupun pernyataan itu tidak seluruhnya benar, sebab terdapat beberapa siswa yang mencapai tingkat belajar sangat baik. Prestasi belajar siswa dipengaruhi banyak faktor, dua diantaranya antara lain adalah cara belajar siswa dan metode mengajar guru. Cara belajar aktif merupakan cara belajar yang dituntut dari siswa, agar mereka dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Oleh karena itu, guru perlu memilih strategi pembelajaran yang tepat untuk mendorong siswa belajar melakukan penalaran. Salah satu bentuk strategi belajar yang dapat mendorong siswa belajar melakukan penalaran adalah strategi belajar kooperatif tipe STAD seperti yang telah dijelaskan pada uraian di atas.
1. Siklus Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
a. Mengajar
Mempresentasikan pelajaran


b. Belajar dalam tim
Siswa bekerja di dalam tim mereka dengan dipandu oleh lembar kegiatan siswa (LKS) untuk menuntaskan materi pelajaran.
c. Tes
Siswa mengerjakan tes atau tugas lain secara individual
d. Penghargaan tim
Ada tiga penghargaan yang diberikan untuk prestasi kelompok berdasarkan nilai perkembangan yang diperoleh kelompok seperti kelompok baik, hebat, dan super.

2. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
a. Persiapan Materi dan Penerapan Siswa dalam kelompok
Sebelum menyajikan guru harus mempersiapkan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajari siswa dalam kelompok-kelompok kooperatif. Kemudian menetapkan siswa dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4 sampai 6 orang, aturan heterogenitas dapat berdasarkan pada:
1) Kemampuan akademik (pandai, sedang, dan rendah)
Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya. Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi seimbang.
2) Jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan bawahan atau sifat (pendiam dan aktif)
b. Penyajian Materi Pelajaran
Ditekankan pada hal-hal berikut:
1) Pendahuluan
Di sini perlu ditekankan apa yang perlu dipelajari siswa dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari.

2) Pengembangan
Dilakukan pengembangan materi yang sesuai yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna bukan hafalan. Pertanyaan-pertanyaan diberikan penjelasan tentang benar atau salah. Jika siswa telah memahami konsep maka dapat beralih konsep lain.
3) Praktek Terkendali
Praktek terkendali dilakukan dalam menyajikan materi dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama.
c. Kegiatan Kelompok
Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa. Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Guru memberi bantuan dengan memperjelas perintah, mengulang konsep dan menjawab pertanyaan.
d. Evaluasi
Dilakukan selama 45 menit sampai 60 menit secara mandiri untuk menunjukkan apa yang telah siswa pelajari selama bekerja dalam kelompok. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disambungkan sebagai nilai perkembangan kelompok.
e. Penghargaan Kelompok
Dari hasil nilai perkembangan, maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, hebat, dan super.
f. Perhitungan Ulang Skor Awal dan Pengubahan Kelompok
Satu periode penilaian (3-4 minggu) dilakukan perhitungan ulang skor evaluasi sebagai skor awal siswa yang baru. Kemudian dilakukan perubahan kelompok agar siswa dapat bekerja dengan teman yang lain.


3. Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Keuntungan pembelajaran kooperatif STAD antara lain :
a. Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok.
b. Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil
c. Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
d. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.
Kelemahan pembelajaran kooperatif tipe STAD antara lain :
a. Bila ditinjau dari sarana kelas, maka mengatur tempat duduk untuk kerja kelompok sangat menyita waktu. Hal ini disebabkan belum tersedianya ruangan-ruangan khusus yang memungkinkan secara langsung dapat digunakan untuk belajar kelompok.
b. Jumlah siswa yang besar dalam suatu kelas menyebabkan guru kurang maksimal dalam mengamati kegiatan belajar, baik secara kelompok maupun secara perorangan.
c. Guru dituntut bekerja cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan pembelajaran yang dilakukan, di antaranya mengoreksi pekerjaan siswa, menghitung skor perkembangan maupun menghitung skor rata-rata kelompok. Hal ini dilakukan pada setiap akhir pertemuan.
d. Memerlukan waktu dan biaya yang banyak dalam mempersiapkan maupun melaksanakan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA



Firman Syah Noor. 2007. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) Terhadap Kemampuan Siswa dalam Mengerjakan Bukti dalam Matematika pada Siswa SMU. Pages-your favorite.com/ ppsupi/ubstrakmat2005. 22 September


Perdy Karuru. 2007. Penerapan Pendekatan Ketrampilan Proses dalam Seting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Belajar IPA Siswa SLTP.depdiknas.go.id/jurnal/45/perdy-karuru.htm, 22 September


______. 2007. Penerapan Kooperatif Teknik “STAD” dalam Pembelajaran Matematika. Trisnimath.blogspot.com, 22 September.
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
( Contextual Teaching and Learning / CTL )

A. Latar Belakang
Penerapan pembelajaran kontekstual di Amerika Serikat bermula dari pandangan ahli pendidikan klasik John Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan teori kurikulum dan metodologi pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat siswa. Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari paham progresivisme John Dewey. Intinya, siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah.

B. Pengertian
Dewasa ini pembelajaran kontekstual telah berkembang di negara – negara maju dengan berbagai nama. Di negeri Belanda berkembang Realistic Mathematics Education ( RME ) yang menjelaskan bahwa pembelajaran matematika harus dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Di Amerika berkembang Contextual Teaching and Learning ( CTL ) yang intinya membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang di pelajari dengan kehidupan mereka. Sementara itu di Michigan juga berkembang Connected Mathematics Project ( CPM ) yang bertujuan mengintegrasikan ide matematika ke dalam konteks kehidupan nyata dengan harapan siswa dapat memahami apa yang di pelajarinya dengan baik dan mudah.
Menurut Johnson 2002 : 25 ( dalam Nurhadi ) CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari – hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Sedangkan menurut Yoyo ( 2006 ) CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang di ajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang di miliki dan penerapannya dalam kehidupan sehari – hari.

C. Karakteristik
Menurut Johnson 2002 : 24 ( dalam Nurhadi ) ada delapan komponen utama dalam sistem pembelajaran kontekstual yaitu :
1. Melakukan hubungan yang bermakna ( making meaningful connections )
Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minat secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau kelompok, dan orang dapat belajar sambil berbuat.
2. Melakukan kegiatan – kegiatan yang signifikan ( doing significant work )
Siswa membuat hubungan – hubungan antar sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.
3. Belajar yang diatur sendiri ( self – regulated learning )
Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan : ada tujuannya, urusannya dengan orang lain, hubungan dengan penentuan pilihan dan ada produk / hasil yang sifatnya nyata.
4. Bekerja sama ( collaborating )
Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif ( critical and creative thinking )
Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa ( nurturing the individual )
Siswa dapat memelihara pribadinya. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa, siswa juga menghormati temannya dan orang dewasa.
7. Mencapai standar yang tinggi ( reaching high standards ).
Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “ excellence “
8. Menggunakan penilaian autentik ( using authentic assessment ).
Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna.

D. Fokus Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peranan guru. Sehubungan dengan itu maka pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal – hal sebagai berikut :
1. Belajar Berbasis masalah ( Problem – Based Learning )
Yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.
2. Pengajaran Autentik ( Authentic Instruction )
Yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna.
3. Belajar Berbasis Inquiri ( Inquiry – Based Learning )
Yang membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4. Belajar Berbasis Proyek / Tugas ( Project – Based Learning )
Yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif dimana lingkungan belajar siswa ( kelas ) di desain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.


5. Belajar Berbasis Kerja ( Work – Based Learning )
Yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah.
6. Belajar Berbasis Jasa – Layanan ( Service Learning )
Yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa – layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah.
7. Belajar Kooperatif ( Cooperative Learning )
Yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar.

E. Prinsip Penerapan Pembelajaran Kontekstual
Beberapa prinsip yang harus dipegang oleh guru dalam menerapkan pembelajaran kontekstual antara lain :
1. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajiban perkembangan mental ( developmentally appropriate ) siswa.
2. Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung ( independent learning groups).
3. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri ( self – regulated learning ).
4. Mempertimbangkan keragaman siswa ( disversity of students ).
5. Memperhatikan multi – intelegensi ( multiple – intelligences ) siswa.
6. Menggunakan teknik – teknik bertanya ( Questioning )
7. Menerapkan penilaian autentik ( Authentic assessment )

F. Tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual
1. Kontruktivisme ( Contructivism )
Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong – konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta – fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
2. Menemukan ( Inquiry )
Merupakan inti pembelajaran berbasis CTL, pengetahuan dan ketrampilan yana diperolswa hasil dari menemukan sendiri.
Kegiatan inquiri sebenarnya sebuah siklus. Siklus tersebut terdiri dari langkah – langkah sebagai berikut :
• Merumuskan masalah ( dalam mata pelajaran apapun )
• Mengumpulkan data melalui observasi
• Menganalisa dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, table, dan karya lainnya.
• Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens yang lain.
3. Bertanya ( Question )
Bertanya adalah induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan aspek penting dari pembelajaran.
4. Masyarakat Belajar ( Learning Community )
Manfaatnya yaitu melatih siswa untuk bekerjasama, memberi dan meminta informasi. Prakteknya di kelas terwujud dalam :
a. Pembentukan kelompok kecil
b. Pembentukan kelompok besar
c. Mendatangkan narasumber atau ‘ ahli ‘
d. Bekerja dengan kelas sederajat
e. Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya
f. Bekerja dengan sekolah diatasnya
g. Bekerja dengan masyarakat.



5. Permodelan ( Modeling )
Dalam pembelajaran ada model yang ditiru ( bagaimana cara belajar),misalnya cara membaca peta, cara menemukan kata kunci. Guru bukan satu – satunya model, bisa dari siswa atau narasumber.
6. Refleksi ( Reflection )
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu.
Realisasi refleksi antara lain :
• Pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh pada hari tersebut
• Catatan atau jurnal di buku siswa
• Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari tersebut
• Diskusi
• Hasil karya
7. Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assesment )
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkrmbangan belajar siswa.
Karakteristik Authentic Assesment antara lain :
• Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
• Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
• Mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
• Berkesinambungan
• Terintegrasi
• Dapat digunakan sebagai feed back

G. Penerapan CTL dikelas
Menurut Yoyo ( 2006 ), secara garis besar langkah – langkah penerapan CTL dikelas yaitu :
1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2. Laksanakan kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu anak dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

H. Peran Guru
Agar proses pengajaran kontekstual lebih efektif, guru perlu melaksanakan beberapa hal sebagai berikut :
1. Mengkaji konsep dan kompetensi dasar yang akan di pelajari oleh siswa.
2. Memahami latar belakang sekolah dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama.
3. Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa, selanjutnya memilih dan mengaitkannya dengan konsep dan kompetensi yang akan dibahas dalam proses pembelajaran kontekstual.
4. Merancang pengajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan kehidupan mereka.
5. Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan / pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya.
6. Melakukan penilaian terhadap pemahaman siswa.

I. Lima Strategi Umum Pembelajaran Kontekstual
Center of Occupational Research and Develompent ( CORD ) menyampaikan lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelajaran kontekstual yaitu :
1. Relating
Belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
2. Experiencing
Belajar ditekankan kepada penggalian, penemuan, dan penciptaan.
3. Applying
Belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan didalam konteks pemanfaatannya.
4. Cooperating
Belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian bersama, dan sebagainya.
5. Transferring
Belajar melalui pemanfaatan pengetahuan didalam situasi atau konteks baru.

J. Perbedaan pembelajaran kontekstual dengan pembelajaran tradisional

No PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PEMBELAJARAN TRADISIONAL
1. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran Siswa adalah penerima informasi secara pasif
2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi Siswa belajar secara individual
3. Pembelajaran diakaitkan dengan kehidupan nyata Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
4. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
5. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
6. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor
7. Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural : rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatihkan ( drill )
8. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara : proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dan lain - lain Hasil belajar hanya diukur hanya dengan tes
9. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting Pembelajaran hanya terjadi di dalam kela
METODE PENDEKATAN DAN MODEL
PEMBELAJARAN

A. Metode Pembelajaran
Metode adalah cara untuk mencapai tujuan. Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran, untuk mencapai tujuan pengajaran. Metode mengajar dikelompokkan berdasarkan pada tiga aspek, yaitu :
1. Aspek penyampaian pesan
2. Aspek pendekatan pengajaran
3. Aspek pengorganisasian siswa

1. Berikut jenis-jenis metode pengajaran berdasarkan aspek penyampaian pesan, diantaranya yaitu :
a. Metode Ceramah
Penyampaian materi pelajaran secara lisan atau lewat kegiatan berbicara. Sementara itu siswa mendengarkan dengan tertib dan sekali-sekali mereka membuat catatan. Di dalam metode ceramah, guru juga dapat menggunakan alat-alat seperti papan tulis dan kapur.
b. Metode Tanya jawab
Metode penyampaian pelajaran dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa dan harus dijawab oleh siswa pada waktu itu juga. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan tersebut sifatnya membimbing siswa.
c. Metode Demonstrasi
Pada umumnya demonstrasi merupakan proses belajar mengajar dimana guru memperlihatkan sesuatu / obyeknya secara langsung. Metode ini efektif untuk membantu para siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti : ”Bagaimana cara membuatnya?”, ”Terdiri dari bahan apa?”, ”Bagaimana proses mengerjakannya ?”.
d. Metode Eksperimen
Metode ekperimen atau metode percobaan adalah suatu cara belajar mengajar yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan, menganalisa, membuktikan dan mengalami sensiri obyeknya, serta menarik kesimpulan mengenai hal-hal yang dialaminya. Siswa juga akan memperoleh pengalaman-pengalaman sendiri lebih banyak dengan eksperimen.
e. Metode Tugas dan Resitasi
1) Metode Tugas adalah suatu cara belajar mengajar dimana guru dengan siswa merencanakan bersama-sama suatu soal, permasalahan atau kegiatan yang harus diselesaikan siswa dalam waktu tertentu.
2) Metode Resitasi adalah disebut juga metode latihan yaitu cara belajar mengajar yang penekanannya kepada pengembangan kemampuan para siswa untuk mengingat dan mengucapkan kembali apa yang pernah mereka terima, atau disebut juga sebagai suatu cara penyajian pelajaran dengan penekanan pada pengulangan secara lisan oleh siswa, dengan menjawab pertanyaan dari guru.
f. Metode Melatih (Drill)
Metode melatih atau metode drill dapat disebut juga metode resitasi, sebab metode-metode tersebut ada kemiripan dan kesamaannya. Metode melatih adalah cara penyampaian pelajaran yang menekankan pada pengulangan secara lisan, tertulis, praktikum, / latihan yang dilakukan siswa dalam mencapai sasaran belajar yang ingin dicapai.

2. Adapun jenis-jenis metode pengajaran berdasarkan aspek pendekatan pengajaran, yaitu :
a. Metode problem solving
Metode ini dalam mengajarkan berbagai mata pelajarannya memusatkan kegiatan pada murid. Jadi berlawanan dengan metode ceramah yang mengutamakan guru, dasar metode ini yaitu mendorong anak didik berfikir secara sistematis dengan menghadapkannya kepada masalah-masalah.
b. Metode discovery dan inquiry
1) Discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental tersebut antara lain : mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, membuat dugaan, menjelasakan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya.
2) Inquiry adalah penyelidikan pengajaran inquiry adalah pengajaran dimana guru dan siswa mempelajari gejala-gejala ilmiah dengan pendekatan dan jiwa ilmuwan.
c. Metode teknik klasifikasi nilai
Metode teknik klasifikasi nilai adalah metode mengajar dimana guru menolong siswa untuk meneta pkan nilai pilihannya dari sejumlah alternatif nilai yang dihadapinya.
d. Metode simulasi
Simulasi adalah tingkah laku seseorang untuk berlaku seperti orang yang dinaksudkan, dengan tujuan agar orang itu dapat mempelajari lebih mendalam, tentang bagaimana orang itu merasa dan berbuat sesuatu. Jadi siswa itu berlatih memegang peranan sebagai orang lain.
e. Metode sosio-drama dan roll playing
Perlunya digunakan metode sosiodrama adalah siswa dapat mendramatisasikan tingkah laku, atau ungkapan gerak-gerik wajah seseorang dalam hubungan sosial antar manusia. Atau dengan roll playing dimana siswa bisa berperan atau memainkan peranan dalam dramatisasi masalah sosial / psikologis itu. Karena itu kedua teknik ini hampir sama, maka dapat digunakan bergantian.

3. Sedangkan jenis-jenis metode pengajaran berdasarkan aspek pengorganisasian siswa adalah :
a. Metode Karyawisata
Metode karyawisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertantu di luar sekolah untuk mempelajari / menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu ; suatu bengkel mobil, toko serba ada, suatu peternakan atau perkebunan museum dan sebagainya.
b. Metode Kelompok
Yaitu suatu cara mengajar, dimana siswa di dalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok a tau dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok bekerjasama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan pula oleh guru.
c. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh guru disekolah.
d. Metode Workshop atau lokakarya
Bentuk ini sebenarnya merupakan bentuk metode diskusi dengan pengorganisasiannya khusus agar setiap kelompok dapat bekerja secara intensif dan efisien dalam usaha mereka menyelesaikan topik.
e. Metode proyek atau unit
Adalah suatu sistem menyampaikan materi pelajaran yang ditunjukkan pada suatu masalah untuk dipecahkan secara utuh yang memiliki arti tersendiri.

B. Pendekatan
1. Pendekatan Deduktif dan Induktif
a. Pendekatan deduktif adalah pendekatan dari hal yang umum ke hal yang khusus. Contoh : menggunakan hukum atau teorema untuk menyelesaikan kasus.
b. Pendekatan Induktif adalah pendekatan dari hal-hal yang bersifat khusus kemudian direalisasi ke hal-hal yang bersifat umum, digunakan pada saat metode penemuan. Contoh : a + b = c
b + c = c a + b = b + a
2. Pendekatan Formal dan Non Formal
a. Pendekatan formal adalah pendekatan yang menggunakan dasar-dasar hukum yang jelas. Contoh : cara belajar mendapatkan rumus.
b. Pendekatan non formal adalah pendekatan yang tidak menggunakan dasar-dasar yang jelas.
3. Pendekatan Ekspositorik dan Pendekatan Heuristik
a. Pendekatan Ekspositorik
Adalah pengajaran yang menyampaikan pesan dalam keadaan ”telah siap” (telah diolah secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan).
b. Pendekatan Heuristik
Adalah pengajaran yang menyampaikan pesan dalam keadaan siap (telah diolah secara tuntas oleh siswa)
4. Pendekatan Ketrampilan Proses (PKP)
Pendekatan ketrampilan proses adalah pendekatan yang meningkatkan keaktifan siswa. Contoh : CBSA (Cara belajar siswa aktif)
5. Pendekatan Spiral
Pendekatan spiral adalah pendekatan dalam menyampaikan materi penyajiaanya dimulai dari materi yang sederhana kemudian diulang dan kemudian berubah menjadi komplek dan bersifat abstrak.
6. Pendekatan Open Ended
Pendekatan open ended (luas terbuka)
Pendekatan ini memberi kesempatan pada siswa secara luas dan terbuka untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan menurut cara dan gayanya masing-masing.
(JJ. Hasibuan dan Moedjiono. 1988 : 4 dan 18)



C. Model Pembelajaran
Secara khusus istilah ”midel” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. Dalam pengertian lain, ”model” juga diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda yang sesungguhnya, istilah ”model” digunakan untuk menunjukkan pengertian yang pertama sebagai kerangka konseptual. Atas dasar pemikiran tersebut, maka yang dimaksud dengan ”model pembelajaran” adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasian pengalaman belajar untuk men capai tujuan belajar tertantu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Joyce dan Weil (1986) mengelompokkan model-model pembelajaran ke dalam empat kategori, yakni :
1. Kelompok Model Pengolahan Informasi atau The Information Processing Family
Model-model belajar mengajar pengolahan informasi pada dasarnya menitik beratkan pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah, dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta mengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya.
Yang termasuk kelompok ini adalah model :
a. Pencapaian konsep (Concept Attaiment)
b. Berfikir induktif (Inductive Thinking)
c. Latihan Penelitian (Inquiry Training)
d. Pemandu Awal (Aduance Organizers)
e. Memorisasi (Memorization)
f. Pengembangan intelek (Developing Intellec), dan
g. Penelitian ilmiah (Scientific Inquiry)


2. Kelompok Model Personal atau Personal Model
Model personal beranjak dari pandangan kedirian atau Self hood dari individu. Proses pendidikan sengaja diusahakan untuk memungkinkan dapat memahami diri sendiri dengan baik, memikul tanggungjawab untuk pendidikan, dan lebih kreatif untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Kelompok Model Personal memusat kan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif, sehingga manusia menjadi semakin sadar diri dan bertanggungjawab atas tujuannya. Termasuk ke dalam kelompok ioni, model-model belajar menagajar sebagai berikut :
a. Mengajar tanpa arahan (Non Directive Teaching)
b. Sinektiks (Synecticas Model)
c. Latihan Keadaran (Awareness Training), dan
d. Pertemuan kelas (Class Meeting)

3. Kelompok Model Sosial atau Social Models
Menurut Joice dan Weil (1986) kelompok model sosial ini dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerja sama seperti yang dilakukan oleh David dan Koder Jhonson dan kawan-kawan (1974-1981) dan Robert Slavin (1983) telah bekerja sama dengan para dosen untuk mengkaji kemanfaatan dari penggunaan Cooperative Reward atau hadiah yang diberikan atas suatu kerja sama dan struktur tugas kerja sama atau cooperative reward dalam suatu kelompok. Kelompok model ini meliputi:
a. Model investigasi kelompok (group investigation)
b. Model bermain peran (role playing)
c. Model penelitian yurisprudensi (yurisprudential inquiry)
d. Model latihan laboratory (laboratory training)
e. Model penelitian sosial (social science inquiry)

4. Kelompok Model Sistem Perilaku atau Behavioral System
Dasar pemikiran dari kelompok ini adalah sistem komunikasi yang mengoreksi sendiri (selft correttinity communication system) yang memodifikasi perilaku dalam hubungannyb dengan bagaimana tugas-tugas dijalankan dengan sebaik-baiknya. Kelompok model ini meliputi :
a. Model belajar tuntas, pengajaran langsung dari teori belajar sosial (mastering learning, direct ionstruction and social learning theory)
b. Model belajar kontrol diri (learning self-control).
c. Model latihan ketrampilan dan pengembangan konsep (training for skill dan concept development)

Sebagaimana dikemukakan oleh Joyce dan Weill (1986), setiap model belajar mengajar memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. Sintaksis
Ialah tahap-tahap kegiatan dari model itu
2. Sistem sosial
Ialah situasi atau suasana dan norma yang berlaku dalam model tersebut.
3. Prinsip reaksi
Ialah pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan para pelajar, termasuk bagaimana seharusnya pengajar memberikan respon terhadap mereka.
4. Sistem pendukung
Ialah segala sarana, bahan dan alat yang diperlukan untuk melaksanakan model tersebut.
5. Dampak instruksional
Ialah hasil belajar yang dicapai langsung dengan mengarahkan para pelajar pada tujuan yang diharapkan.
6. Dampak pengiring
Ialah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses belajar mengajar sebagai akibat tercipatanya suasana belajar yang dialami langsung oleh para pelajar tanpa pengarahan langsung dari pengajar.

DAFTAR PUSTAKA


Roestiyah N.K, Yumiati Suharto. 1985. Srategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
J.J. Hasibuan, Moedjiono. 1988. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya.
Toeti Soekamto. 1997. Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2007
A. LATAR BELAKANG
Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, ekxplorasi, eksperimen, menunjukan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsisten (Standar kompetensi kurikulum 2004). Tebentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa tersebut tercermin melalui kemampuan berfikir kritis, logis, sistematis, dan memiiki sifat objektif, jujur, disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, keadaan dilapangan belumlah sesuai dengan yang diharapkan. Hasil studi menyebutkan bahwa meski adanya peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun pembelajaran dan pemahaman siswa SLTP cenderung text book oriented dan kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran konsep cenderung abstrak dan dengan metode ceramah sehingga konsep-konsep akademik kurang bisa atau sulit dipahami. Sementara itu kebanyakan guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berfikir siswa, atau dengan kata lain tidak melakukan pengajaran bermakna, metode yang digunakan kurang bervariasi, dan sebagai akibatnya motivasi belajar siswa menjadi sulit ditumbuhkan dan pola belajar cenderung menghafal dan mekanistis (Direktorat PLP, 2002)
Mencermati hal tersebut diataas, sudah saatnya untuk diadakan pembaharuan, inovasi ataupun gerakan perubahan mind set kearah pencapaian tujuan pendidikan diatas. Pembelajaran matematika hendaknya lebih bervariasi metode maupun strateginya guna mengoptimalkan potensi siswa. Upaya-upaya guru dalam mengatur dan memberdayakan berbagai variabel pembelajaran merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan yang direncanakan. Karena itu pemilihan metode, strategi dan pendekatan dalam mendesain model pembelajran guna tercapainya iklim pakem (pembelajaran aktif kreatif efektif menyenangkan) adalah tuntutan yang mesti diupayakan untuk dipenuhi bagi para guru.
Perlu diketahui bahwa keanekaragaman model pembelajaran yang hendak disampaikan pada bahan ajar ini, lebioh merupakan upaya bagaimana menyediakan berbagai alternatif dalam strategi pembelajran matematika yang hendak disampaiakan dan selaras dngan tingkat perkembangan, afektif dan psikomotorik peserta didik jenjang SMP. Ini artinya bahwa, tidak ada model pembelajaran yang paling baik, atau model pembelajaran yang satu lebih baik dan model pembelajaran yang lain. Baik tidaknya suatu model pembelajaran atau pemilihan suatu model pembelajaran atau pemilihan suatu model pembelajaran akan tergantung akan tergantung pada tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi yang hendak disampaikan perkembangan peserta didik, dan juga kemampuan guru dalam mengelola dan memberdayakan semua sumber belajar yang ada.

B. TUJUAN
Tujuan dalam makalah ini agar lebih mengetahui tipe model pembelajaran kooperatif khususnya tipe NHT (Numbered Heads Together).

C. MANFAAT
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenah pengetahuan mengenai pembelajaran kooperatif khususnya tipe NHT (Numbered Heads Together).

D. ISI
I. Pengertian model pembelajaran kooperatid
Pembelajaran kooperatif yaitu penempatan beberapa siswa dalam kelompok kecil dan memberikan mereka sebuah atau beberapa tugas.
Terkait dengan model pembelajran ini ada enam langkah dalam model pembelajaran kooperatif yaitu:
Fase ke Indikator Kegiatan guru
1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
3 Mengorganisaikan siswa dalam kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana siswa membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok melakukan transisi secara efisien
4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerrjakan tugas
5 Evaluasi Guru mengevaluassi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil bekajar siswa baik individu maupun kelompok


II. Ciri –ciri pembelajaran kooperatif yaitu
1. Tujuan kelompok
Keberhasilan kelompok dalam mencapai kecemerlangan dalam menguasai suatu konsep yang diajar
2. Interaksi sosial ditekankan
Yaitu interaksi yang berlangsung untuk setiap kelompok yang akan menyebabkan siswa lebih aktif saling memenuhi dan saling membantu.
3. Pelajar perlu saling bergantungan positif untuk mencapai objektif gerak kerja
Yaitu dalam suatu kelompok ada siswa yang pintar yang mempunyai tanggungjawab untuk saling membantu dan keberhasilan kelompok tersebut dikenali sebagai kelompok yang saling bergantung secara positif. Tugas yang diberikan oleh guru dikerjakan dari kumpulan anggota dari suatu kelompok tersebut. Bermaksud semua pelajar mempunyai peluang yang sama untuk mengambil manfaat dan saling kerjasama.
III. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Pembelajaran ini yaitu suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
NHT merupakan kegiatan belajar kooperatif tipe NHT
1. Siswa dikelompokan menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri atas 4 orang. Setiap anggota kelompok diberi satu nomor 1, 2, 3 dan 4
2. Guru memberikan pertanyaan
3. Guru memeberi tahu siswa untuk meletakkan jawaban masing-masing anak dalam suatu kelompok mereka untuk meyakinkan bahwa setiap anggota kelompok memahami jawaban tersebut.
4. Guru menyebut no (1, 2, 3, atau 4) dan siswa dengan nomor yang bersangkutanlah yang harus menjawab.
Setiap kelompok terdiri dari siswa dengan kemampuan yang bervariasi yaitu satu berkemampuan tinggi, dua sedang dan satu rendah. Disini ketergantungan positif juga dikembangkan, dan yang kurang terbantu oleh yang lebih. Yang berkemampuan tinggi bersedia membantu meskipun mungkin mereka tidak dipanggil untuk menjawab. Bantuan yang diberikan dengan motivasi tanggingjawab dan nama baik kelompok.
Yang paling lemah diharapkan antusias dalam memahami permasalahan dan jawabannya karena mereka merasa merekalah yang akan ditunjuk oleh guru untuk menjawab.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam ketika siswa bekerja dalam kelompok adalah sebagai berikut :
1. Setiap anggota dalam kelompok harus merasa bagian dari tim dalam pencapaian.
2. Setiap anggota dalam kelompok harus menyadari bahwa masalah mereka adalah pemecah masalah dalam kelompok, berhasil atau gagal akan dirasakan oleh semua anggota kelompok
3. Untuk mencapai tujuan kelompok semua siswa harus bicara atau diskusi aktif satu sama lain.
4. Harus jelas bahwa setiap kerja individu dalam kelompok mempunyai efek langsung terhsadap keberhasilan kelompok.

E. Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Nht
1. Perlu persiapan yang matang.
2. Pembelajaran membutuhkan waktu yang cukup lama
3. Pengelolaan kelas susah dikondusifkan
4. Membutuhkan biaya yang cukup besar

F. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Nht
1. Siswa lebih antusias dalam belajar
2. Siswa lebih kreatif
3. Melatih siswa untuk saling bekerjasama
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2006. Model pembelajaran matematika. Yogyakarta.
Wardani, Sri. 2002. Pembelajaran Matematika Kontekstual/Realistik. Yogyakarta. PPPG Matematika.